Tampilkan postingan dengan label SCHWARZ. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SCHWARZ. Tampilkan semua postingan

Minggu, 12 Juni 2016

Ketika Cahaya INJIL terangi Tanah Minahasa


Tanggal 12 Juni 1831 merupahan hari dimana Riedel dan Schwarz menginjakan kaki di tanah Minahasa untuk memulai tugas penginjilan secara berkelanjutan. Hari itu kemudian ditetapkan sebagai Hari Pekabaran Injil dan Pendidikan Kristen. Meskipun demikian, sebelum mereka, telah ada penginjil lainnya yang memperkenalkan Injil kepada Tou Minahasa

S
ebelum Riedel dan Schwarz datang pada tahun 1831, aktivitas pekabaran injil di tanah Minahasa sebenarnya telah berlangsung, baik oleh pekabar injil Katolik  maupun Protestan. Di kalangan protestan, Sejak abad ke –17, pendeta-pendeta protestan dari Belanda telah bergantian datang ke Minahasa, dalam rangka pelayanan mereka diantara pegawai-pegawai VOC (Verenigde Oost-Indische Compagnie), yakni serikat dagang Hindia Timur, yang membeli berbagai komditi pertanian di wilayah yang kita kenal sekarang sebagai Nusantara, termasuk Minahasa. Ada catatan-catatan pendek yang berisi nama-nama para pendeta Belanda itu, akan tetapi kegiatan mereka tidak berkesinambungan, sebab Minahasa pada waktu itu hanyalah sebagai daerah persinggahan bagi para pendeta VOC. Kegiatan penginjilan yang berkesinambungan baru terjadi pada abad ke-19 ketika Johann Friedrich Riedel dan Johann G├Âttlieb Schwarz mengawali gelombang kedatangan para penginjil dari Nederlandsch Zendeling Genootschap (NZG).
Riedel dan Schwarz tiba di Manado pada tanggal 12 Juni 1831, tanggal ini dipakai sebagai hari peringatan Pekabaran Injil dan Pendidikan Kristen di Minahasa, walaupun Riedel sebenarnya nanti tiba dan menetap di Tondano pada tanggal 14 Oktober 1831. Ketika Riedel datang di Tondano, sudah ada sekitar 100 orang yang mengenal kekristenan. Pdt. Jan Geritt Hellendoorn memperkenalkan jemaat itu kepada Riedel. Mungkin jemaat itu pernah dilayani oleh pendeta-pendeta VOC, yang masuk Minahasa dengan mengambil jalur perjalanan melalui pantai Kora-kora, tetapi dapat juga dianggap sebagai buah-buah pekerjaan pelayanan Injil dari Hellendoorn, yang disebut sebagai “peletak dasar kekristenan di Minahasa”.

Disaat kedatangan Riedel, pengenalan orang Tondano akan kekristenan masih kurang. Banyak orang hidup tidak tertib. Karena itu pula usaha pertama Riedel dalam kegiatan penginjilan adalah  memberi perhatian pada sekolah yang sudah ada. Baginya, keteraturan, kebersihan dan kesopanan dapat diajarkan melalui pendidikan agama. Selain itu dengan topangan istrinya, Riedel mengadakan pendekatan terhadap orang-orang kampung. Ia menerima mereka di rumahnya, mengadakan percakapan dengan mereka mengenai kehidupan sehari-hari dan ia juga mengadakan perkunjungan ke rumah-rumah. Iapun bertegur sapa dengan orang-orang yang dijumpainya, dan dengan pendekatan itu Riedel mengadakan percakapan dengan penduduk setempat. Setelah keakraban terjalin barulah Riedel mengalihkan perhatian orang-orang Tondano kepada pengajaran Kristen. Siapa yang dilihatnya memberikan perhatian sungguh-sungguh dijadikannya orang-orang inti dalam persekutuan di rumahnya.
Perhatian Riedel terhadap orang-orang sakit juga mempengaruhi penduduk. Walaupun kepercayaan penduduk terhadap kepercayaan lama tidak  segera hilang, lebih khusus kepercayaan akan peran para walian (imam di kalangan orang Minahasa, yang dipandang mempunyai kekuatan magis untuk mengusir roh-roh jahat dan sekaligus  bertindak sebagai dukun), namun semakin banyak orang yang datang ke rumah Riedel untuk mengadakan kebaktian yang diselenggarakannya.
Orang Tondano ternyata menerima pengajaran Kristen yang dibawa oleh Riedel. Selain jumlah mereka yang mengikuti kebaktian semakin banyak, perkembangan di bidang pendidikan  semakin tampak oleh banyaknya anak-anak yang rajin kesekolah. Perhatian penduduk akan kebaktian semakin besar, nyata dari adanya penyelenggaraan ibadah sore, dimana Riedel menyalin khotbah di ibadah pagi ke dalam bahasa daerah setempat. Ini dikenal dengan sebutan “salinan”. Riedel memanfaatkan antusias jemaat akan kekristenan itu dengan menyelenggarakan kelompok belajar Alkitab pada hari Senin dan Kamis malam.
Melalui pendidikan kepada anak-anak maka keteraturan dalam kehidupan masyarakat semakin lama semakin baik. Pengajaranyang disuguhkannya kepada jemaat telah mendorong banyak orang memberi diri dibaptis. Perlu dicatat bahwa, pembaptisan dilakukan setelah para calon baptisan mengikuti pelajaran khusus pada setiap sore. Isi pelajaran yang disampaikan oleh Riedel terutama berisi bimbingan jiwa yang mengarahkan hati seseorang kepada Tuhan.
Hal yang hampir sama juga dilakukan Schwarz di Langowan. Walaupun Schwarz menghadapi para Walian yang pengaruhnya kuat dalam diri anggota  masyarakat, namun adanya sekolah-sekolah yang menjadi sarana pembelajaran kekristenan sangat membantu penerimaan orang Langowan dan sekitarnya terhadap Injil. Hal ini nyata sesudah tiga tahun pelayanan Schwarz ada 4 orang dibabtis, sesudah sembilan tahun bertambah menjadi 300 orang dan lebih dari 1800 orang sesudah 12 tahun.
Pemberian diri Riedel dan Schwarz bagi penyebaran Kabar Baik mengingatkan kita akan kesiapan seorang penginjil untuk mengintegrasikan dirinya di antara penduduk yang didatanginya. Keberhasilan mereka juga karena ada banyak orang Minahasa yang memberi diri menjadi pembantu para zendeling. Mereka semula adalah pemuda-pemuda yang tinggal bersama zendeling dan dididik sebagai guru-guru injil.
Dalam pekabaran injil, pemuliaan akan Tuhan menjadi alasan utama mengapa Riedel dan Schwarz memberi diri keluar dari kaumnya dan berintegrasi dengan orang-orang Minahasa yang jauh dari kampung halamannya. Semangat untuk mengantarkan orang lain mengenal dan memahami kerja penebusan Kristus menjadi motivasi utama dalam diri para zendeling Riedel dan Schwarz. Mereka tidak mendidik orang untuk hanya hidup saleh, melainkan mengantarkan  mereka mau mendengarkan injil untuk percaya pula akan penebusan Kristus. Ini bukan berarti Riedel dan Schwarz tidak mementingkan kesalehan. Persekutuan-persekutuan pembacaan Alkitab yang dilakukan secara intensif menjadi petunjuk adanya pemeliharaan rohani orang-orang Minahasa yang sudah menerima Injil.
Kini, setelah 180 tahun benih injil itu ditebar, menjadi tanggung jawab kita untuk melanjutkan usaha-usaha yang telah dirintis Riedel dan Schwarz serta penginjil lainnya.(*)
===========================

>>> Narasi dari: “Menggali harta terpendam”, terbitan panitia peryaaan HUT –70 GMIM Bersinode. 
>>> Foto direproduksi dari: Majalah Waleta Minahasa edisi 1 tahun I 2010.








Jumat, 15 Februari 2013

Mengenal RIEDEL dan SCHWARZ


Foto. Diolah Mimbar.online dari Majalah Waleta Minahasa
 ~ JOHANN FRIEDRICH RIEDEL ~

Lahir di Erfurt Jerman 1798; mulanya sebagai tukang jahit. Pada tahun  1822 (umur 23 tahun) mulai bergabung dengan Zending. Setelah dididik di Jaenicke, berangkat ke tanah Hindia Belanda (23 Nopember 1829). Pada 12 Juni 1831 melalui Ambon tiba di Kema. Sesuadah belajra bahasa makatana beberapa bulan di Manado dibimbing oleh pendeta Hellendoorn, ia mulai berkarya di Tondano sejak 14 Oktober 1831.
Dr. Kruijf menulis bahwa Riedel datang di Tondano yang masih merupakan perkampungan baru bagi orang-orang pindahan dari kampung di atas air tahun 1809 sesudah perang di Danau Tondano (di Minawanua). Belum ada rumah tetap baginya, kecuali rumah yang dipinjamkan pemerintah. Terdapat sebuah gereja kayu kecil, jemaat berjumlah 200 orang. Pada hari minggu hanya sepersepuluhnya yang hadir di gereja. Kebanyakn masih tinggal dalam gubuk di ladang-ladang padi. Kebanyak belum mengerti apa itu hari minggu.


Foto. Diolah Mimbar.online dari Majalah Waleta Minahasa


 ~ JOHANN GOTTLIEB SCHWARZ ~

Lahir di Koningsbergen Jennan, 21 April 1800; mula-mula sebagai tukang sepatu. Pada tahun 1822, bersama-sama dengan Riedel dididik di Jaenicke, lalu pada 1827 keduanya ke Rotterdam.
Pada 23 Nopember 1829 bertolak ke Hindia Belanda dan tiba di Ambon 7 Januari 1832. Setelah belajar bahasa daerah beberapa bulan di Manado, ia diajak pendeta Hellendoorn ke Langowan dan sekitarnya untuk mencari tempat cocok untuk dijadikan pos. Walau memilih Langowan namun untuk sementara waktu harus tinggal di Kakas.
Pada tahun-tahun awal ia mendapat perlawanan dari ulama-ulama (Walian) Alifuru yang diam-diam disokong oleh Mayoor Langowan. Setelah Mayoor tersebut dipecat pemerintah, karya pendeta Schwarz mulai berkembang.  Terlebih setelah pemerintah melarang semua peranan  para walian.

(SUMBER: HB Palar, Wajah Baru Minahasa, Gibbon Foundation)