Minggu, 31 Mei 2020

DOA

| "pray" || crosswalk.com |
Bibir komat kamit
Mata menutup rapat
Kepala tunduk tak berdaya
Lutut sujud mencium tanah
Rasa dan pikir melayang ke arah sorga sana singgasana Sang Khalik

Sadar ....
Raga dan jiwa ini ada Yang Punya
Ada Dia yang sanggup bri hidup pun mengambilnya kembali
Yang sanggup 'bri roti puaskan lapar pun air penyembuh haus
Ada Sang Khalik Pengatur Hidup
Yang siap dengar keluh kesah

Tak perlu rayuan
Tak perlu paksaan, apalagi rupiah...
Hanya nurani tulus memohon
Dalam renung khusuk berharap tolongan
Meski tanpa nada tanpa suara
Hanya hati yang bisikan kata
Penuh pinta dan harap...

Ucapkan "Amin" tanda yakin
Untuk sebuah DOA...


(M. Yafeth Tinangon, Tondano, 30 Maret 2018)

**) Telah tayang di www.meidytinangon.com dan kompasiana.com

Tentang Kekuatiran

|| godvine.com ||

"|Bagaimana harus bersikap terhadap kekuatiran?|,,
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, khawatir atau kuatir diberikan arti: takut (gelisah, cemas) terhadap suatu hal yang belum diketahui dengan pasti. Jadi, kuatir itu berhubungan dengan perasaan takut, gelisah atau cemas terhadap hal apa saja yang belum ada kepastian. Kita kuatir akan hari esok tentang hidup yang akan kita lalui yang pasti belum pasti. Belum pasti apakah hujan atau panas, belum pasti apakah ada makan atau tidak, belum pasti bertemu atau tidak bertemu seseorang, dan lain sebagainya.

Terkadang, kita telah melakukan usaha namun hasilnya belum pasti. Misalnya, kalau sakit kita berupaya mengobati namun belum langsung sembuh. Kalau tak ada pendapatan, kita berusaha bekerja tapi hasil kerja kita belum pasti sesuai harapan atau tidak. Hal-hal seperti itu mendatangkan kekuatiran.

Sebuah puisi berjudul "kuatiryang tayang di kompasiana.com 20 April 2020 memberikan gambaran tentang kuatir dan cara menghadapinya.

          [Baca konten puisi di kompasiana.com, klik: "kuatir"

Penggalan bait awal tertulis seperti ini:

Malam ini...
Ragaku tak berdaya....
Nyeri menikam tubuhku...
Nurani insani menjerit...
Alam pikir tak setimbang...
Sesuatu membuatku takut...
Kuatir !!!

Bait ini hendak berkisah tentang contoh dari kekuatiran yang bisa berupa ketiadaberdayaan tubuh manusia karena sakit, yang digambarkan dalam larik puisi: "ragaku tak berdaya, nyeri menikam tubuhku..." Situasi kesakitan membuat kekuatiran dan ketakutan dalam rasa dan pikir dirangkai dalam larik kalimat: "Nurani insani menjerit, alam pikir tak setimbang..."

Bagaimana pengalaman penulis puisi tersebut menghadapi kekuatiran?

Bait selanjutnya berkisah,
Kucoba tenangkan diri

mencari cara hapus rasa ini

Berusaha menenangkan diri dan mencari cara bagaimana menghapus atau menghilangkan rasa kuatir memang merupakan upaya yang umum kita lakukan. Menenangkan diri dengan menarik nafas dalam, menahannya dalam hitungan detik dan kemudian melepaskannya, merupakan salah satu teknik menenangkan diri. Mengalihkan perhatian kita ke hal lainnya misalnya mendengar musik dan melakukan aktivitas fisik merupakan cara yang biasanya kita lakukan dengan maksud tidak memikirkan hal yang mengkhawatirkan tersebut.

Untuk sementara, cara atau teknik itu bisa menenangkan dan mengalihkan perhatian kita. Namun, beberapa saat kemudian, apalagi ketika kita dituntut untuk harus memikirkan hal yang mengkhawatirkan itu, maka kita sadar usaha-usaha kita tak mampu menghilangkan situasi dan perasaan kuatir secara permanen.

Kuatir adalah sesuatu hal yang manusiawi, namun kurang baik jika kita memeliharanya terus menerus. Lalu apa yang disarankan oleh puisi diatas untuk kita lakukan?

 Namun
Tak ada cara yang bisa kutempuh
Selain berdoa, pasrah berserah
Segala asa dan cita
Segala kuatir insani
dalam genggam tanganMu
Tuhan ...

Cara paling utama dan ampuh adalah berdoa dan berserah pada Tuhan. Kuatir memang manusiawi, namun kita adalah manusia dengan segala kekurangan, Kita tak mampu menghadapi semua problema hidup. Yang kita butuh hanya 1, yaitu kuasa dari Tuhan yang dapat kita peroleh dengan berdoa dan pasrah berserah pada otoritas Tuhan. Penuh keyakinan, bukan memaksa Tuhan menuruti kehendak kita.

Alkitab memberikan penegasan soal menyerahkan kekuatiran kepada Tuhan, misalnya dalam 2 nats berikut:

1 Petrus 5:7 (TB)
"Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu."

Mazmur 55:23 (TB)
Serahkanlah kuatirmu kepada TUHAN, maka Ia akan memelihara engkau! Tidak untuk selama-lamanya dibiarkan-Nya orang benar itu goyah.

Tunggu apa lagi, serahkanlah segala kekuatiranmu kepada Tuhan dalam doa dan permohonan. Ketika kita menyerahkan dengan ikhlas, berarti kekuatiran itu, bukan milik kita lagi, melainkan milik Tuhan atau dalam kekuasaan Tuhan. Kecuali jika kita tak iklas menyerahkan.....

Tetap semangat jalani hidup. JBU, Ora et Labora.

(MyT)

Rabu, 27 Mei 2020

Mencari Surga, dari Telapak Kaki Ibu, Sampai Agnes Monica

| Ilustrasi || Sumber: wallpaperplay.com |  

Berefleksi tentang surga, saya sempat menulis di Kompasiana.com dalam momentum perayaan Kenaikan Yesus ke Surga Tahun 2020. Saya menulis 2 konten. Konten pertama dalam kategori fiksiana, konten yang kedua dalam kategori humaniora. Berikut saya rewrite kembali 2 konten tersebut, semoga bermanfaat. 
***

Konten fiksi saya beri judul "Kisah Pencarian 1 Surga di 3 Tempat" yang hendak berefleksi dari pengalaman literasi ketika membincangkan tentang surga. Ada yang menyebut surga itu di telapak kaki ibu, surga itu jauh di atas langit dan surga itu ada di bumi. Kisah pencarian reflektif tersebut saya saya tuliskan kembali berikut ini.....

Alkisah ... 
Ada suatu tempat Rumah Bapa bernama surga.  
Surga mulia tempat Sang Khalik bersemayam.
Surga mulia tempat Tuhanku terangkat naik.
Surga mulia disana Roh Kudus turun ke bumi.  
Surga mulia disana banyak tempat disiapkan untuk kita.  
Surga, kesanalah tujuan kekekalan hidup, meski ku tak tahu surga itu persisnya dimana. 

Yang ku tahu surga itu melampaui langit. Langit di atas langit, namun entah dimana pastinya. Sang astronot melintas langit, tak jua menemukannya. Google Maps, Google Search, GPS pun tak bisa memastikan tempat bernama surga.
Ah, andai bisa ....

Lalu, diceritakanlah oleh orang-orang di kolong langit bernama bumi, kata mereka, "surga itu di telapak kaki ibu."
Akupun makin bingung, yang ku tahu surga hanya satu. Jika surga di telapak kaki ibu, mana mungkin Tuhan diam disitu? Terlalu hina untuk Sang Maha Agung. Apakah maksud mereka, ku harus beribu kali mencium telapak kaki ibu, agar kutemukan surga itu?
Bagaimana jika ibu pergi dipanggil duluan mendahului anak-anaknya, haruskah anak-anak mencari ibu tiri atau ibu angkat agar surga ditemukan
Ataukah  telapak kaki ibu, adalah penunjuk jalan ke surga? Jejak-jejak telapak kaki sang ibu yang tulus merawat suami dan anak-anaknya. Entahlah, semoga Ayah tak cemburu karena kakinya bukan tempat surga berada.

Suatu ketika aku diberitahu seorang ekoteolog-feminis, bahwa bumi rumah kami, adalah ibu semesta. Aku berpikir, jika surga di telapak kaki ibu, dan bumi adalah ibu, dimanakah telapak kaki bumi?  Kaki bumi pasti di bawah, yah disana ada tanah memeluk batu berselimut air. Lalu surga itu persisnya dimana?

Kemudian, aku melihat mayat-mayat korban pandemi dikuburkan di dalam galian lobang di dalam tanah, telapak kaki bumi ibu semesta.
Doa dan harap dinaikan mengiringi  penguburan mereka yang menyatu dengan sang bumi. Dalam doa terselip kata supaya mereka diterima di sisi Sang Khalik. Ah, bukankah itu artinya mereka diharap masuk surga? Tapi, kuburan bukan surga, melainkan tempat perhentian sementara bagi yang meninggal, menanti saat penghakiman tiba.

          Suatu malam, kubaca sebuah ayat dari Kitab Suci: 
"Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan!  akan masuk  ke dalam Kerajaan Surga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di surga" *)

Akhirnya aku tiba mendekati kesimpulan tentang 1 surga di 3 tempat. Bahwa hanya ada 1 surga nun jauh disana. 2 tempat lain, telapak kaki ibu dan bumi sebagai ibu segala mahluk,  hanya kiasan penuh makna, hanyalah "surga" untuk mencapai surga sesungguhnya, surga mulia!

Tak semua yang bisa tiba di surga sana, jika di "surga bumi" tidak ikut perintahNya. Perintah itu disampaikan lewat putraNya yang menjadi Manusia yang lahir di bumi, menginjak bumi dan membumi. Perintah itu diteruskan Sang Putra Tunggal pada ibu, orang tua dan diteruskan pada keturunannya, turun temurun. Ah, Setiap orang tua (harusnya) menjadi surga bagi anaknya. Ikutilah jejak telapak kaki orang tua, yang adalah jejak langkah menuju surga!

Sesungguhnya surga dapat kita temukan "tiket"nya di bumi, ibu segala mahluk. Sang Putra Tunggal datang ke bumi ke dalam panggung dunia. Tak seorangpun datang pada Bapa di Surga tanpa ikut jalan Sang Putra, Jalan Kebenaran dan Hidup....
          Berlakulah baik dan bijak, damai dan sejahtera selama menginjak bumi jika kita merindu surga mulia

Sang Putra Tunggal lahir hina mulia, hidup berkarya layaknya manusia. Dia menderita, mati, bangkit, memberkati kita melalui murid-muridnya, lalu naik ke surga, menanti kita disana.

***

Konten kedua, saya beri judul: "Ditinggal Kekasih, Agnes Monica Mencari Surga!"
Konten ini terinspirasi dari lagu yang dikidungkan Agnes berjudul Tanpa Kekasihku. Bukan lagu rohani sih, namun penggalan lirik "... dimana letak surga itu," menginspirasi saya untuk menelisik kedalaman lirik lagu tersebut. Apalagi dilantumkan penuh penjiwaan oleh Agnes Mo. 

Berikut lirik lengkap lagu Agnez Mo tersebut.

Langit begitu gelap
Hujan tak juga reda
Ku harus menyaksikan cintaku
Terenggut tak terselamatkan
Ingin ku ulang hari
Ingin ku perbaiki
Kau sangat kubutuhkan
Beraninya kau pergi dan tak kembali

Dimana letak surga itu
Biar ku gantikan tempat mu denganku
Adakah tangga surga itu
Biar ku temukan untuk bersamamu

Ku biarkan senyumku menari di udara
Biar semua tahu
Kematian tak mengakhiri
Cinta...

Ah, cobalah diresapi makna lagu ini, bandingkan dengan refleksi saya di kompasiana.com. Silahkan klik jika berkenan: "Ditinggal Kekasih, Agnes Monica Mencari Surga!"

Akhirnya, rindukah kita akan surga mulia?
===
"Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan!  akan masuk  ke dalam Kerajaan Surga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di surga" 
(Matius 7:21)

Salam, Meidy Y. Tinangon

Kamis, 24 November 2016

Kitab NAHUM

Kitab Nahum merupakan salah salah satu kitab di dalam Alkitab dan juga merupakan satu dari "12 kitab nabi-nabi kecil" dalam Perjanjian Lama dan Alkitab Ibrani.[1][2]Kitab ini terdiri dari tiga (3) pasal dan empat puluh tujuh (47) ayat.[3]Sejumlah ahli menganggap kitab ini pertama-tama disusun sebagai liturgi Tahun Baru untuk perayaan musim gugur pada tahun 612 sM, sesaat setelah jatuhnya Niniwe.[4] Kitab ini juga dapat diumpamakan sebagai nyanyian lagu pembebasan.[5]

Nabi Nahum adalah nabi abad pada ke-7, kira-kira 675-597 SM.[4] Tidak banyak latar belakang pribadi Nahum yang dapat diketahui, termasuk kampung halamannya.[4] Nama Nahum muncul hanya satu kali dalam Perjanjian Lama (dalam judul pembuka kitab ini) dan sekali dalam Perjanjian Baru (Lukas 3:25).[3] Kota Elkosh (atau Elkosy), yang disebut di awal kitab ini (Nahum 1:1), tidak dapat dipastikan identitas letaknya.[6] Sebuah tradisi yang berasal dari abad ke-16 M, menempatkan Elkosy 50 mil di sebelah utara kota modern Mosul, yang terletak dekat reruntuhan kota Niniwe, pada sebuah kota yang sekarang disebut sebagai Al-qust.[6] Dari segi lain, Jerome mengidentikkan Elkosy dengan kota El-kanzeh, yang terletak di Galilea.[6]Tradisi lain menghubungkannya dengan Kapernaum (asal kata: Kfar Nahumatau "Kampung Nahum") di Galilea.[6] Penulis-penulis pada zaman Bapa-bapa Gereja menempatkan Elkosy di sebelah selatan Yudea.[6] Tradisi pseudo-Epiphani mengusulkan daerah Elkosy sekarang ini terletak di kota Beit Librin.[6] Ada yang mengatakan bahwa Elkosy merupakan kampung halaman Nahum.[4][7][8] Atas dasar inilah, sulit untuk menarik kesimpulan mengenai Nabi Nahum, termasuk asal-usulnya.[4][6] Nama "Nahum" sendiri berarti "penghiburan" atau "berbelas kasihan"/mengasihi" (Yes 57:18).[6]

Kitab Nahum ditulis untuk memperingati jatuhnya kota Niniweibu kota bangsa Asiria (2 Raja-raja 19:36Yunus 1:2Yunus 3:1).[6][9] Nabi Nahum bernubuatterhadap Asyur antara tahun 663, ketika tentara Asyurbanipalmengalahkan tentara Mesir dan menjatuhkan ibu kotanya serta tahun 612, ketika Niniwe direbut orang Babel.[10]Ada kemungkinan Nahum berkarya di tengah-tengah bangsa Israel, ketika Asyur masih di puncak kekuasaan. Asyur memerintah dengan keras dan kejam melalui serangkaian tindakan dan peraturan yang ketat.[10] Hal ini nyata dengan tindakan Asyur yang memindahkan penduduk-penduduk jajahan mereka dari negeri asal mereka ke negeri yang jauh (kebanyakan diantaranya mati di tengah jalan), memusnahkan bangsa-bangsa yang berani memberontak, menuntut pajak yang berat, dan tidak berkompromi terhadap pembatalan perjanjian [4][5] Ini terlihat jelas dalam penggambaran kerajaan Asyur yang negatif di kitab ini: digambarkan bersikap seperti seekor singa betina yang menerkam rezeki rakyat sebagai mangsa untuk anak-anaknya (2:12); pedagangnya seperti belalang pelompat banyaknya (3:16) yang memakan habis keperluan orang yang dijajah; para penjaganya seperti belalang pindahan dan para pegawainya seperti kawanan belalang yang hinggap pada tembok-tembok pada waktu dingin (3:17) yang menindas rakyat; Niniwe merupakan kota penumpah darah yang selalu merampas dan tiada henti menerkam (3:1); Niniwe seperti perempuan sundal yang cantik parasnya dan ahli dalam sihir (3:4).[10] Dalam kondisi yang demikian, Nahum tampil, bernubuat, dan memberitahukan tentang Allah serta mengajar orang-orang Yehuda untuk menanti-nantikan Tuhan, sekalipun masyarakat berada di dalam situasi yang suram.[10]
Secara sederhana, kitab ini dapat dibagi ke dalam tiga bagian tema besar yakni:[6][10]
Versi lain menggambarkan struktur kitab ini sebagai berikut:[12]
  • Nahum 1:2-14 Pemberitahuan umum akan penghukuman Niniwe. Nubuat yang tegas dari Allah melalui Nahum untuk melawan dan menghukum Niniwe memastikan kedaulatan Allah. Niniwe akan mengalami keganasan murka Allah sehingga penindasan terhadap kota itu akan dirasakan dengan segera.
  • Nahum 2:1-14 Gambaran penghakiman Allah atas Niniwe. Penghakiman Allah ini digambarkan dengan realitas luka dan darah yang jauh lebih buruk dari rasa sakit, panik, atau malapetaka yang disebabkan oleh gerombolan perampok bersenjata. Murka atau amarah digambarkan dengan hebat.
  • Nahum 3:1-19 Kepastian penghakiman atau penghukuman Niniwe. Dengan sebuah pertanyaan retoris (bandingkan Nahum 3:7), Nahum menegaskan akan kepastian datangnya penghukuman Allah. Kepastian akan penghukuman Allah ini disebabkan oleh dosa mereka dan sebuah seruan kejatuhan dan kelemahan Niniwe.

SUMBER: WIKIPEDIA.ORG
Referensi:
  1. ^ (Indonesia) H. Boschma. 1986. Ringkasan Pengajaran Alkitab. Jakarta: BPK Gunung Mulia. Hlm. 9.
  2. ^ (Indonesia) David L. Baker. 1986. Mari Mengenal Perjanjian Lama. Jakarta: BPK Gunung Mulia. Hlm. 21
  3. ^ a b c (Inggris) Ralph. L. Smith. 1984. World Biblical Commentary: Micah-Maleachi. Texas: Word Books Publisher. Hlm. 63, 65, 68-69
  4. ^ a b c d e f (Indonesia) W.S. Lasor, D.A. Hubbard, F.W. Bush. 2007. Pengantar Perjanjian Lama 2: Sastra dan Nubuat. Jakarta: BPK Gunung Mulia. Hlm. 363, 364, 368, 191.
  5. ^ a b (Indonesia) Dianne Bergant, Robert J. Karris (ed). 2002. Tafsir Alkitab Perjanjian Lama. Yogyakarta: Kanisius. Hlm. 686.
  6. ^ a b c d e f g h i j k l m n o p q (Indonesia) J. Veitch. 1977. Tafsiran Nahum. Jakarta: BPK Gunung Mulia. Hlm. 9, 10, 15 Kesalahan pengutipan: Invalid <ref> tag; name "Veitch" defined multiple times with different content
  7. ^ (Inggris) John D.W. Watts. 1975. The Books of Joel, Obadiah, Jonah, Nahum, Habakuk, and Zephaniah. London: Cambridge University Press. Hlm. 101
  8. ^ (Indonesia) F.L. Bakker. 1983. Sejarah Kerajaan Allah Jilid 1/2 Perjanjian Lama. Jakarta: BPK Gunung Mulia. Hlm. 246.
  9. ^ (Indonesia) H.H. Rowley. 1991. Atlas Alkitab. Jakarta: BPK Gunung Mulia. Hlm. 37
  10. ^ a b c d e (Indonesia) Dr. C. Barth. 1989. Theologia Perjanjian Lama 4. Jakarta: BPK Gunung Mulia. Hlm. 65, 66.
  11. ^ Transkrip Naskah Laut Mati
  12. ^ (Inggris) O. Palmer Robertson. 1990. The New International Commentary on the Old Testament: The Books of Nahum, Habakuk, and Zephaniah. Grand Rapids: William B. Eerdmans Publishing Company. Hlm. 57, 80, 99

SUPERBOOK ASM

gmim.or.id –  Jumat  (18/11/2016) pukul 11.00 s/d 14.00 Wita bertempat di Aula Lantai 3 Kantor Sinode GMIM Sosialisasi Superbook Edisi Natal berlangsung sukses, dimana sosialisasi ini diawali dengan ibadah pembukaan, dipimpin Sekretaris Departemen Kemitraan dan Dialog Pdt. Melky Tamaka, STh.
Project Manajer Cahaya Bagi Negeri (CBN) Indonesia Yoseph K. Tandian dalam sosialisasi mengatakan, media sosial sudah memasuki arus media augment reality dan virtual reality. Dikuatirkan, akan didominasi situs-situs porno yang bukan tidak mungkin diakses anak-anak. “Superbook menjadi solusi untuk menangkal arus dominasi augment reality dan virtual reality yang berkembang pesat saat ini. Ini adalah bagian dari apa yang disebut Tsunami Digital.  Saat ini, Gereja perlu membuat sesuatu yang strategis untuk 5 hingga 10 tahun kedepan,” ungkap Tandian.
Ditambahkannya, Superbook hadir di GMIM sebagai persembahan dari Christian Broadcasting International (CBN). Di Indonesia CBN dinamakan Cahaya Bagi Negeri. “Kurikulum Superbook  kami tidak jual belikan. Tapi kami sediakan bagi Gereja yang mau menggunakannya, tanpa biaya apapun. “Ada sponsor,” ujarnya singkat ketika ditanya soal pembiayaan Kurikulum Superbook.
Mewakili KPA Sinode GMIM, Wakil Asisten Bendahara Pnt. Johny Suatan mengingatkan, Kurikulum Superbook ibarat “suplemen tambahan” dalam pelayanan. “Makanan pokoknya adalah Bina Anak yang terbit dua kali dalam setiap satu tahun pelayanan. Maksudnya, Bina Anak dipergunakan dalam ibadah sekolah minggu. Superbook digunakan di ibadah pondok gembira atau ibadah-ibadah lainnya sebagaimana yang kita ketahui selama ini,” ungkap Ketua KPA Wilayah Tondano Dua ini.
(Penulis dan Foto: Frangki Noldy Lontaan. Editor: Pdt. Janny Ch. Rende, M.Th)

OTORITAS FIRMAN DALAM PERSEKUTUAN --- MTPJ 20-26 NOV 2016

TEMA BULANAN: “Gereja yang Dibaharui Harus Terus Menerus Membaharui Diri”
TEMA MINGGUAN :“Otoritas Firman Dalam Persekutuan”
Bahan Alkitab : Nahum 1 : 9 – 15
ALASAN PEMILIHAN TEMA
Gereja dipanggil Allah untuk memberitakan firman-Nya Firman Allah adalah kuasa Allah yang mentransformasikan. Melalui Firman umat dapat bertumbuh dalam pengenalan akan Allah dan bertumbuh dalam karakter Kristus. Melalui Firman umat Allah diubahkan, dan umat yang diubahkan itu menjadi agen peru-bahan terhadap dunia sekitar di mana dia berada. Ketika ditanya tentang keberhasilannya sebagai reformator, Martin Luther berkata, “saya hanya mengajarkan, menyampaikan, me-nuliskan Firman Allah. Saya tidak melakukan apa-apa, Firman yang melakukan segalanya.” Dengan demikian Firman Allah harus senantiasa menjadi sentral, pusat dalam persekutuan orang per-caya, supaya setiap orang percaya hidup di bawah otoritas Firman Allah.
       Apabila setiap orang percaya hidup di bawah otoritas firman, dan menstandarkan setiap pikiran, perkataan dan perbuatannya pada firman Allah, hidup mereka pasti membawa dampak yang baik di tengah masyarakat yang makin rusak oleh dosa. Dengan kata lain melalui hidup yang berstandarkan firman Allah, orang percaya menjadi saksi yang mencerminkan Kristus kepada dunia di sekitarnya.
       Namun, kenyataannya ada begitu banyak orang percaya yang masih hidup di dalam dosa. Itu menandakan bahwa sekalipun Firman Allah diberitakan oleh gereja, tapi tidak semua orang yang menerimanya untuk dijadikan pedoman hidup dan perilaku. Maka sudah seharusnya gereja memberitakan dan mengajarkan firman Allah secara lebih jelas, tegas dan intens, untuk membentuk persekutuan jemaatnya hidup di bawah oto-ritas firman. Karena itulah maka pemberitaan firman Tuhan di minggu ini diberi tema “Otoritas Firman Dalam Perse-kutuan”.
PEMBAHASAN TEMATIS
Pembahasan Teks Alkitab (Exegese)
Nabi Nahum bernubuat di Yehuda pada abad ke-7 Sebelum Masehi, satu abad sesudah nabi Yunus tampil. Pene-kanan beritanya adalah bahwa hari Tuhan akan datang atas Asyur, karena pemerintahannya yang penuh dengan kejahatan, yang menindas.
Teks bacaan Nahum 1:9-15 berisi nubuat tentang kehancuran kota Niniwe. Kota Niniwe adalah ibu kota kerajaan Asyur. Maka kehancuran Niniwe adalah juga kehancuran Asyur. Pada saat itu bangsa Yehuda sedang mengalami kemelut oleh penindasan bangsa Asyur. Di awal abad ke-7 SM kerajaan Asyur tampil sebagai kerajaan adidaya. Namun kekuatan mereka dipakai untuk menindas bangsa-bangsa lain. semua kerajaan yang ada di tanah Palestina saat itu dijajah oleh Asyur, tak terkecuali kerajaan Yehuda. Pada tahun 722 SM Kota Samaria yang menjadi ibukota kerajaan Israel Utara diserang dan diluluhlantakkan oleh Asyur, dan penduduknya dibuang ke berbagai kota di Asyur. Terdengar kabar bahwa penduduk Samaria yang dibuang ke kota-kota Asyur hidup dalam penderitaan yang luar biasa akibat kekejaman dan kebiadaban orang Asyur. Semua bangsa di Timur Tengah saat itu, tak terkecuali kerajaan Yehuda, pun ditindas oleh Asyur. Sebagai bangsa yang terjajah, mereka harus membayar upeti kepada Asyur. Akibatnya pajak yang tinggi dipungut dari rakyat Yehuda, yang mengakibatkan mereka hidup dalam kondisi ekonomi yang memperhatinkan. Beban yang mereka pikul sangat berat, ditambah lagi dengan ancaman-ancaman pembinasaan yang disertai dengan tindakan-tindakan kejam yang begitu sering dilontarkan dan dilakukan pihak Asyur jika rakyat Yehuda tidak melunasi upeti yang telah ditetapkan.
Di tengah-tengah situasi seperti inilah, Nahum tampil de-ngan nubuatan penghukuman Ilahi atas Asyur. Bahwa hukuman Tuhan atas Niniwe akan dinyatakan dengan tidak tanggung-tanggung, mereka akan habis tak bersisa (ayat 9-10). Sekuat apapun mereka, Tuhan akan binasakan (ayat 12a). Bahwa umat Yehuda akan dilepaskan dari gandar (beban pikulan) dan belenggu penindasan Niniwe, sehingga umat Yehuda tidak direndahkan lagi oleh mereka (ayat 12b-13). Tuhan menetapkan bahwa “Tidak akan ada lagi keturunan dengan namamu” (ayat 14b). Artinya, sekali mereka hancur, tak akan pernah bangkit lagi. “Dari rumah allahmu Aku akan melenyapkan patung pahatan dan patung tuangan” (ayat 14c). Stigma saat itu ialah ketika suatu bangsa kalah dalam peperangan, maka allah yang mereka percayai pun kalah terhadap allah dari bangsa yang menang. Dalam hal ini Tuhan yang berperang melawan Niniwe/Asyur, dan Tuhan berfirman bahwa segala berhala mereka akan dile-nyapkan, maka itu menunjukkan bahwa Tuhanlah yang tampil sebagai pemenang. Tuhanlah Allah yang perkasa. Kemudian frase “kuburmu akan Kusediakan, sebab engkau hina” (ayat 14d) kembali menunjuk pada kebinasaan Asyur yang telah dekat karena mereka hina dengan segala kejahatan mereka. Kemudian ayat 15 adalah nubuat untuk umat Yehuda, bahwa kehancuran Niniwe merupakan kabar baik, kabar sukacita bagi Yehuda, sebab dengan kehancuran itu, mereka tidak akan menindas dan menggerogoti Yehuda lagi.
Para nabi, termasuk Nahum, dipanggil untuk menunjuk-kan keajaiban kuasa Tuhan. Bila pada zaman Musa, keajaiban kuasa Tuhan itu dinyatakan melalui tanda-tanda ajaib sehingga setiap hari, bahkan umat melihat langsung keajaiban kuasa Tuhan, tiang awan di siang hari, tiang api di malam hari, roti manna di pagi hari, burung puyuh di sore hari. Namun, semua keajaiban kuasa Tuhan itu ditanggapi dengan pemberontakan dan kekerasan hati umat Israel yang tidak mau menaati Allah. Kini, melalui para nabi, Allah menunjukkan keajaiban kuasa-Nya melalui kata-kata, melalui Firman-Nya. Allah menyatakan hati-Nya, perasaan-Nya, kehendak-Nya kepada umat pilihan-Nya dan kepada bangsa-bangsa lain, melalui kata-kata, yaitu Firman-Nya yang disampaikan oleh para nabi.
Melalui nabi Nahum, Allah menyatakan murkanya kepada Asyur, tetapi menyatakan kasih-Nya kepada umat Yehuda. Dengan kata-kata nubuatan Firman, sang nabi menyampaikan emosi yang dirasakan Allah, supaya umat sadar, bahwa bila Allah murka itu artinya umat harus segera bertobat dan kembali ke jalan-Nya, tetapi bila Allah mengasihi, itu berarti layak bagi umat untuk tetap hidup menurut firman-Nya.
Ajakan sang nabi kepada umat Yehuda untuk melihat hadirnya pemberita Firman, dan karena itu juga menyambut Firman yang dinyatakan, sesungguhnya membangkitkan pengha-rapan umat yang hidup di tengah derita ketertindasan. Ajakan sang nabi tersebut menunjukkan bahwa di tengah himpitan dan sengsara, pertolongan selalu datang dari Tuhan, melalui Firman-Nya yang memulihkan. Ajakan sang nabi untuk melihat datangnya sang pembawa berita, adalah ajakan untuk menaruh percaya pada otoritas Firman Allah, dan membangun harapan, membangun hidup berdasarkan otoritas Firman.
Sejarah mencatat, pada tahun 612 SM, Kerajaan Asyur dikalahkan dan dihancurkan oleh Kerajaan Babilonia. Nubuat Firman yang disampaikan Nahum tergenapi, otoritas Firman Allah terbukti.
Makna dan Implikasi Firman
  • Umat Allah dipanggil hidup di bawah otoritas Firman. Di masa Perjanjian Lama Allah berfirman melalui para nabi. Di masa Perjanjian Baru Yesus dan para rasul mempercayai Perjanjian Lama sebagai Firman Allah dan meyakini akan otoritas Ilahi di dalamnya. Setelah Yesus naik ke sorga, ajaran dan teladan hidup-Nya menjadi patokan iman di samping tulisan Perjanjian Lama. Setelah sejumlah kitab ditetapkan sebagai Kanon (ukuran, patokan) dalam sidang sinode di Jamnia pada tahun 70 (penetapan Kanon PL) dan Konsili Kartago tahun 419 (penetapan Kanon PB), gereja mandasari ajaran dan pemberitaan Firman dari Alkitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru itu. Agustinus mengatakan, “apa yang ditulis oleh para rasul harus diterima seakan-akan Kristus sendirilah yang telah menulisnya.” Karena itulah para reformator menegaskan prinsip “Sola Scriptura”, yaitu hanya Alkitab-lah Firman Allah, dan hanya oleh Firman Allah manusia boleh mengenal Allah dan beriman kepada-Nya, dan hanya oleh iman (Sola Fide) manusia boleh menerima anugerah keselamatan (Sola Gratia).
  • Karena hanya Alkitab-lah Firman Allah yang otentik, maka gereja membangun ajarannya berdasarkan Alkitab. Segala ajaran yang tidak dibangun berdasarkan Alkiab dan apalagi bertentangan dengan Alkitab tidak dapat kita terima.
  • Karena Alkitab adalah Firman Allah maka kita memposisikan hidup kita di bawah otoritas Alkitab, dan itu berarti ketaatan. Dengan menaati Firman Allah sebagaimana yang tertulis dalam Alkitab maka karakter kita dan prilaku kita dibentuk. Jika kita rajin membaca Alkitab dan merenungkannya, rajin mendengarkan pemberitaan Firman, rajin mengikuti Pene-laahan Alkitab dan menaatinya pasti hidup kita, di mana karakter dan perilaku kita makin hari makin dibentuk menjadi seperti Kristus. Mengapa? Karena Alkitab bersifat Kristosentris. Dari Kitab Kejadian sampai Kitab Wahyu semuanya berpusat pada Kristus. Demikian juga dalam teks bacaan kita yang menubuatkan penghukuman terhadap Asyur dan kelepasan bagi Yehuda, sesungguhnya bermakna berita penghukuman bagi setiap orang yang terus hidup berkanjang dalam dosa dan berita kelepasan dari dosa dan kuasa Iblis melalui karya Kristus bagi orang yang percaya dan hidup dalam Kristus.
  • Di GMIM akhir-akhir ini nampaknya makin banyak pendoa (orang yang merasa dan dianggap memiliki karunia berdoa). Banyak orang yang datang kepada pendoa dalam rangka mencari tahu kehendak Tuhan dan atau memohon perto-longan Tuhan sehubungan dengan masalah yang dialami. Bahwa karunia berdoa itu ada, demikian juga dengan karunia penyataan, karunia bernubuat, menyembukan dan mengusir setan. Namun, Iblis bisa memalsukan karunia. Bahkan Iblis bisa menyamar seperti malaikat terang (II Korintus 11:14). Karena itu setiap penyataan, nubuat, mujizat atau apapun itu harus diuji dengan Firman Tuhan yang tertulis dalam Kitab Suci. Apakah penyataan nubuat, mujizat dan lain-lain itu cocok/sesuai dengan Firman Tuhan? Contohnya, ada seorang pendoa yang mengatakan, “penyakit ibu disebabkan oleh roh jahat, yaitu ibu disantet oleh si ibu A.” Penyataan pendoa tersebut mengakibatkan perkelahian bahkan pertumpahan darah. Apakah penyataan yang berimplikasi pada pertum-pahan darah tersebut benar berasal dari Tuhan? Bukankah Firman Tuhan mengatakan bahwa peperangan kita bukan melawan darah dan daging melainkan melawan roh-roh jahat di udara? Dan bukankah Yesus tidak mengajarkan cara berdoa seperti yang dilakukan pendoa itu? Di sini kita dapat melihat signifikansi Firman dalam menguji setiap roh.
  • Yesus pernah menyimpulkan bahwa seluruh perintah Firman dalam Kitab Suci tersimpul dalam dua perintah, yaitu menga-sihi Allah dengan segenap hati, segenap jiwa dan segenap akal budi, dan mengasihi sesama seperti mengasihi diri sendiri. Dengan demikian orang yang hidup di bawah otoritas Firman adalah orang yang sungguh-sungguh hidup bagi Allah dan sungguh-sungguh hidup bagi sesama.
  • Kita bisa membayangkan bagaimana jadinya persekutuan jemaat Kristen bila setiap orang di dalamnya mau memposisi-kan diri di bawah otoritas Firman, dan bertumbuh dalam kasih kepada Allah dan kasih kepada sesama. Pasti akan menghasilkan sebuah persekutuan yang beribadah bersama, belajar Firman bersama, dengan penuh kasih persaudaraan, yang akrab, saling peduli, saling melengkapi, saling tolong menolong. Persekutuan yang sangat menyenangkan. Dalam persekutuan seperti itu, selalu ada kesadaran terhadap pelang-garan, maaf terhadap kesalahan, budaya gosip makin meng-hilang ganti budaya dialog rohani yang saling menguatkan, iri hati akan makin menjauh berganti ketulusan, egoisme sema-kin memudar berganti kepedulian. Sungguh sebuah perseku-tuan yang menyenangkan.
  • Setiap persekutuan pasti memiliki pemimpinnya. Pemimpin itu membentuk jemaat yang dilayaninya. Pemimpin yang hidup di bawah otoritas Firman pasti akan membentuk jemaat yang hidup di bawah otoritas Firman. Maka jadilah pemim-pin-pemimpin yang hidup di bawah otoritas Firman.
  • Karena Firman Tuhan memiliki otoritas untuk membentuk karakter dan prilaku, maka setiap pemberita Firman harus mempesiapkan Firman Tuhan sebaik mungkin dalam tun-tunan kuasa Roh Kudus, supaya benar-benar Firman Tuhan yang disampaikan memiliki otoritas yang membentuk dan mengubah karakter dan pe Sebab, pemberitaan Firman yang tidak dipersiapkan secara sungguh-sungguh dalam tuntunan Roh Kudus, yang dipersiapkan asal-asalan, buru-buru, tidak akan memiliki otoritas yang membentuk dan mengubahkan karakter dan perilaku itu.
PERTANYAAN UNTUK DISKUSI:       
  1. Bagaimanakah persekutuan yang  hidup  di  bawah  otoritas Firman ?
  2. Pada ayat 15 pembacaan kita dikatakan “Lihatlah! Di atas gunung-gunung berjalan orang yang membawa berita.” Itulah utusan Allah yang memberitakan Firman untuk membangkitkan pengharapan dan menguatkan iman umat Yehuda yang hidup dalam keresahan. Dengan Firman itu tentu diharapkan terjadi transformasi bagi umat, dari resah menjadi gembira, dari ketiadaan daya dan semangat menjadi percaya dan berharap pada Tuhan. Bagaimana dengan pemberitaan Firman yang saudara lakukan? Apakah dengan pemberitaan itu saudara menyaksikan jemaat yang saudara layani mengalami transformasi? Berikan kesaksian saudara. 

Senin, 01 Agustus 2016

Dari Diskusi /Penelaan Alkitab GAMKI Sulut

"Wujudkan Demokrasi Lokal Pilhut yang Membebaskan"

Sebagai organisasi kepemudaan berlatar belakang Kristen, maka wajib hukumnya GAMKI mendasari setiap kegiatan dengan ibadah serta senantiasa mau belajar menggali Alkitab sebagai sumber belajar utama kaum muda Kristen.

Dengan dasar itulah,maka GAMKI Sulut menempatkan Ibadah Penelaahan Alkitab (PA) sebagai salah satu program utama, yang dilaksanakan rutin setiap bulan.

Ibadah PA perdana yang dirangkaikan dengan pertemuaan koordinatif berkala tersebut, dilaksanakan Jumat (29/7) bertempat di rumah Ketua DPC GAMKI Manado yang juga legislator DPRD Sulut, James Karinda SH di Gagaran-Remboken.

Diskusi PA tersebut mengangkat  tema "Demokrasi Lokal Pilhut di Minahasa dan Pembebasan dari Kemiskinan serta kebodohan untuk mewujudkan syaloom Allah". Diskusi dipandu Pnt. Edwin Moniaga, SH, MH senior GMKI/GAMKI yang juga dosen Fakultas Hukum UNSRAT dan mantan Pengurus Pusat GMKI.

Mengangkat bacaan Lukas 4:1-44,  ditemani dingin khas tepian danau Tondano, moniaga menuntun para kader GAMKI Sulut dalam pemahaman teologis.

Salah satu simpulan diskusi adalah GAMKI perlu mendorong agar supaya proses Pilhut terlaksana demokratis dan outputnya benar-benar merupakan pemimpin yang mampu membawa pembebasan. "Kedepan GAMKI perlu mengkaji eksistensi hukum tua, termasuk nilai-nilai kultural yang positif agar supaya dapat memberikan masukan bagi perbaikan struktur pemerintahan wanua (desa), menuju desa yang demokratis dan mampu membawa kesejahteraan atau syaloom Allah", ungkap Moniaga di akhir diskusi.

Minggu, 12 Juni 2016

Ketika Cahaya INJIL terangi Tanah Minahasa


Tanggal 12 Juni 1831 merupahan hari dimana Riedel dan Schwarz menginjakan kaki di tanah Minahasa untuk memulai tugas penginjilan secara berkelanjutan. Hari itu kemudian ditetapkan sebagai Hari Pekabaran Injil dan Pendidikan Kristen. Meskipun demikian, sebelum mereka, telah ada penginjil lainnya yang memperkenalkan Injil kepada Tou Minahasa

S
ebelum Riedel dan Schwarz datang pada tahun 1831, aktivitas pekabaran injil di tanah Minahasa sebenarnya telah berlangsung, baik oleh pekabar injil Katolik  maupun Protestan. Di kalangan protestan, Sejak abad ke –17, pendeta-pendeta protestan dari Belanda telah bergantian datang ke Minahasa, dalam rangka pelayanan mereka diantara pegawai-pegawai VOC (Verenigde Oost-Indische Compagnie), yakni serikat dagang Hindia Timur, yang membeli berbagai komditi pertanian di wilayah yang kita kenal sekarang sebagai Nusantara, termasuk Minahasa. Ada catatan-catatan pendek yang berisi nama-nama para pendeta Belanda itu, akan tetapi kegiatan mereka tidak berkesinambungan, sebab Minahasa pada waktu itu hanyalah sebagai daerah persinggahan bagi para pendeta VOC. Kegiatan penginjilan yang berkesinambungan baru terjadi pada abad ke-19 ketika Johann Friedrich Riedel dan Johann G├Âttlieb Schwarz mengawali gelombang kedatangan para penginjil dari Nederlandsch Zendeling Genootschap (NZG).
Riedel dan Schwarz tiba di Manado pada tanggal 12 Juni 1831, tanggal ini dipakai sebagai hari peringatan Pekabaran Injil dan Pendidikan Kristen di Minahasa, walaupun Riedel sebenarnya nanti tiba dan menetap di Tondano pada tanggal 14 Oktober 1831. Ketika Riedel datang di Tondano, sudah ada sekitar 100 orang yang mengenal kekristenan. Pdt. Jan Geritt Hellendoorn memperkenalkan jemaat itu kepada Riedel. Mungkin jemaat itu pernah dilayani oleh pendeta-pendeta VOC, yang masuk Minahasa dengan mengambil jalur perjalanan melalui pantai Kora-kora, tetapi dapat juga dianggap sebagai buah-buah pekerjaan pelayanan Injil dari Hellendoorn, yang disebut sebagai “peletak dasar kekristenan di Minahasa”.

Disaat kedatangan Riedel, pengenalan orang Tondano akan kekristenan masih kurang. Banyak orang hidup tidak tertib. Karena itu pula usaha pertama Riedel dalam kegiatan penginjilan adalah  memberi perhatian pada sekolah yang sudah ada. Baginya, keteraturan, kebersihan dan kesopanan dapat diajarkan melalui pendidikan agama. Selain itu dengan topangan istrinya, Riedel mengadakan pendekatan terhadap orang-orang kampung. Ia menerima mereka di rumahnya, mengadakan percakapan dengan mereka mengenai kehidupan sehari-hari dan ia juga mengadakan perkunjungan ke rumah-rumah. Iapun bertegur sapa dengan orang-orang yang dijumpainya, dan dengan pendekatan itu Riedel mengadakan percakapan dengan penduduk setempat. Setelah keakraban terjalin barulah Riedel mengalihkan perhatian orang-orang Tondano kepada pengajaran Kristen. Siapa yang dilihatnya memberikan perhatian sungguh-sungguh dijadikannya orang-orang inti dalam persekutuan di rumahnya.
Perhatian Riedel terhadap orang-orang sakit juga mempengaruhi penduduk. Walaupun kepercayaan penduduk terhadap kepercayaan lama tidak  segera hilang, lebih khusus kepercayaan akan peran para walian (imam di kalangan orang Minahasa, yang dipandang mempunyai kekuatan magis untuk mengusir roh-roh jahat dan sekaligus  bertindak sebagai dukun), namun semakin banyak orang yang datang ke rumah Riedel untuk mengadakan kebaktian yang diselenggarakannya.
Orang Tondano ternyata menerima pengajaran Kristen yang dibawa oleh Riedel. Selain jumlah mereka yang mengikuti kebaktian semakin banyak, perkembangan di bidang pendidikan  semakin tampak oleh banyaknya anak-anak yang rajin kesekolah. Perhatian penduduk akan kebaktian semakin besar, nyata dari adanya penyelenggaraan ibadah sore, dimana Riedel menyalin khotbah di ibadah pagi ke dalam bahasa daerah setempat. Ini dikenal dengan sebutan “salinan”. Riedel memanfaatkan antusias jemaat akan kekristenan itu dengan menyelenggarakan kelompok belajar Alkitab pada hari Senin dan Kamis malam.
Melalui pendidikan kepada anak-anak maka keteraturan dalam kehidupan masyarakat semakin lama semakin baik. Pengajaranyang disuguhkannya kepada jemaat telah mendorong banyak orang memberi diri dibaptis. Perlu dicatat bahwa, pembaptisan dilakukan setelah para calon baptisan mengikuti pelajaran khusus pada setiap sore. Isi pelajaran yang disampaikan oleh Riedel terutama berisi bimbingan jiwa yang mengarahkan hati seseorang kepada Tuhan.
Hal yang hampir sama juga dilakukan Schwarz di Langowan. Walaupun Schwarz menghadapi para Walian yang pengaruhnya kuat dalam diri anggota  masyarakat, namun adanya sekolah-sekolah yang menjadi sarana pembelajaran kekristenan sangat membantu penerimaan orang Langowan dan sekitarnya terhadap Injil. Hal ini nyata sesudah tiga tahun pelayanan Schwarz ada 4 orang dibabtis, sesudah sembilan tahun bertambah menjadi 300 orang dan lebih dari 1800 orang sesudah 12 tahun.
Pemberian diri Riedel dan Schwarz bagi penyebaran Kabar Baik mengingatkan kita akan kesiapan seorang penginjil untuk mengintegrasikan dirinya di antara penduduk yang didatanginya. Keberhasilan mereka juga karena ada banyak orang Minahasa yang memberi diri menjadi pembantu para zendeling. Mereka semula adalah pemuda-pemuda yang tinggal bersama zendeling dan dididik sebagai guru-guru injil.
Dalam pekabaran injil, pemuliaan akan Tuhan menjadi alasan utama mengapa Riedel dan Schwarz memberi diri keluar dari kaumnya dan berintegrasi dengan orang-orang Minahasa yang jauh dari kampung halamannya. Semangat untuk mengantarkan orang lain mengenal dan memahami kerja penebusan Kristus menjadi motivasi utama dalam diri para zendeling Riedel dan Schwarz. Mereka tidak mendidik orang untuk hanya hidup saleh, melainkan mengantarkan  mereka mau mendengarkan injil untuk percaya pula akan penebusan Kristus. Ini bukan berarti Riedel dan Schwarz tidak mementingkan kesalehan. Persekutuan-persekutuan pembacaan Alkitab yang dilakukan secara intensif menjadi petunjuk adanya pemeliharaan rohani orang-orang Minahasa yang sudah menerima Injil.
Kini, setelah 180 tahun benih injil itu ditebar, menjadi tanggung jawab kita untuk melanjutkan usaha-usaha yang telah dirintis Riedel dan Schwarz serta penginjil lainnya.(*)
===========================

>>> Narasi dari: “Menggali harta terpendam”, terbitan panitia peryaaan HUT –70 GMIM Bersinode. 
>>> Foto direproduksi dari: Majalah Waleta Minahasa edisi 1 tahun I 2010.